Adalah suatu hal yang membanggakan sekaligus menyedihkan, ketika melihat bahwa penyelenggaraan seminar pendidikan saat ini memiliki peminat yang banyak, terutama bapak/ibu guru yang sedang/akan menjalani sertifikasi. Seperti baru-baru ini, di kota saya, sebuah lembaga pendidikan swasta menyelenggarakan seminar pendidikan mengenai jardiknas, dan diikuti oleh bapak/ibu guru. Namun, alangkah sayangnya, ketika di dalam ruangan yang over loaded itu, banyak bapak/ibu guru yang tidak berpartisipasi aktif, justru sibuk berbincang dengan rekannya sendiri. Ketika ditegur, dengan ringan bapak/ibu guru tersebut menjawab, buat apa terlalu serius, toh, disekolah tidak ada fasilitas komputer, lagipula kehadirannya hanya sekedar menjalankan tugas dan mendapatkan sertfikat. Secara iseng, saya menanyakan kepada 20 peserta yang lain dan 17 orang diantaranya memiliki pendapat yang sama.
Stereotip negative, memang kerap muncul dalam dunia pendidikan. Antara lain di sela-sela waktu istirahat di ruang guru. Sebagai contoh, suatu saat bapak/ibu guru diajak untuk membuat media pembelajaran sendiri, muncul alasan, tidak ada fasilitas disekolah. Namun,ketika suatu saat fasilitas di sekolah dilengkapi, apakah kemudian bapak/ibu guru tersebut akan mau mulai membuat media pembelajaran sendiri? Tidak hanya mengenai teknologi, para siswa pun tumbuh dalam stereotip negatif guru dan orang tua yang mendidiknya. Apabila ada siswa membolos, maka siswa tersebut akan dicap nakal. Tanpa diselidiki kenapa dia melakukan hal tersebut. Juga siswa yang tidak paham di kelas, dicap bodoh, walaupun mungkin ada faktor lain yang tidak diketahui guru. Parahnya stereotip negatif juga merupakan penyakit menular. Apabila stereotip negatif terus berkembang, maka jadilah kanker di dunia pendidikan. Karena pandangan negatif akan melahirkan sikap pesimis kepada dunia pendidikan. Sikap pesimis tersebut, akan menjadi pemberat maju-nya dunia pendidikan dan mematikan motivasi bagi mereka para guru yang berkeinginan untuk maju. Tidaklah salah berpikir kritis, dan mengevaluasi segala tindakan/kebijakan, namun, menvonis sesuatu hal tanpa data yang akurat dan pemikiran yang dalam, justru akan menghadirkan opini kosong yang mematikan dunia pendidikan itu sendiri. Saatnya para guru untuk berpikir optimis dan mulai membenahi diri apapun keadaanya. Setiap bertambah satu guru yang berdedikasi dan memajukan diri, maka bertambah dekat pula kita pada pendidikan yang berkualitas.










wew… bisa jadi motivasi rekan2 sejawat kita mengikuti seminar itu untuk mengejar selembar sertifikat, agar bisa digunakan untuk menambah point mengikuti uji sertifikasi. bener ndak ya bu? hehehehe :lolL wah, salut nih, bu. postingannya bagus dan mencerahkan. salam ngeblog.
Oleh: Sawali Tuhusetya on Februari 27, 2008
at 11:58 am
Salam kenal bu Nana. Tulisannya bagus-bagus. Semoga semangat Ibu dapat menulari rekan-rekan yang lain. Semangat ya, Bu.
Oleh: enggar on Maret 9, 2008
at 4:27 am
Seminar dan workshop yang baik adalah yang bisa mengisi baterai kita sebagai pendidik sebgaia insan profesional sekaligus sebagai praktisi kelas.
Semoga para guru diberi kekuatan dalam memilih seminar atau workshop yang bisa membawa perubahan dikelas.
Amin
Oleh: agusampurno on Maret 10, 2008
at 1:54 am
kagem pak sawali :
matur nuwun pak…yah, begitulah keadaanya.. tapi kita tetap harus semangat kan pak..salam nge-blog juga…
kagem bu enggar :
salam kenal juga bu enggar. matur nuwun sudah mampir…mohon izin juga menambahkan ibu di blogroll
pak agus :
amin…yang pasti optimisme tetap ada untuk perubahan menjadi lebih baik pak. InsyaAllah
Oleh: bhadra31 on Maret 10, 2008
at 4:48 am
Stereotip itu mengingkari keungulan manusia sebagai satu-satunya mahluk yang bisa belajar dan sekaligus memotivasi diri sendiri.
Postingan ini bagus dan mencerahkan.
Salam kenal Ibu Nana.
Aku nitip memberitahukan di sini, aku baru saja memposting artikel “12 Juta anak Indonesia Putus sekolah” di :
http://ayomerdeka.wordpress.com/
salam hangat dari Jakarta
Merdeka!
Oleh: Robert Manurung on Maret 23, 2008
at 10:53 am
Saluete,
tulisan yang merupakan realitas dari keseharian guru . rasa frustasi, gundah dengan kenyataan adalah stereotif negatif manusia pada umumnya. tidak slalu seorang guru.kita mulia dari pribadi masing2 sifat tersebut kita hilangkan, sehingga kawan yang lain juga bisa melihat dan mencontoh, bukan menyumpah serapah sehingga jadi smerawut.
best regard
aminhers
Oleh: aminhers on Mei 18, 2008
at 4:38 am
banyaknya kasus di kelas disebaban oleh tidak adanya komunikasi 2 arah antara guru dan murid. Seandainya guru mau melakukan komunikasi tentu masalah di kelas akan selesai. Tak perlu sampe berlarut-larut apalagi mencap anak bodoh. saya sangat setuju bahwa semua anak adalah bintang.
salam
Oleh: yellashakti on Mei 22, 2008
at 6:48 am
Bu gimane kabare?
si kecil dah nongol ya?
ngomong2 siape namenye?
sebenarnya pengin nengok si kecil, tapi saya ga punya no hp and alamate njenengangn. kalo bu Bhadra buka ni komentar, kasih tahu No Hp and alamatnye ye?
Sukses buat Bu Bhadra and Suami. Salam buat suami and si kecil..
Oleh: Arif on Agustus 2, 2008
at 10:16 am
Oya, masih ngahar di Baturaden kan?
Oleh: Lexy on Agustus 2, 2008
at 10:17 am
no. HP y ganti y????
ni no Q 081327500512
kemaren di call ga aktif truzzzz
pdahal aq ad di ahmad yani aga lama
q tnggu blzny
Oleh: Lexy on Maret 6, 2009
at 10:44 am
Kulanuwun, Bu.
Tulisannya menggelitik juga. Bagus. Kapan2 silahkan mampir di blog saya biar tambah banyak saudara.
Oleh: M Mursyid PW on Agustus 13, 2009
at 4:46 pm