Kemarin aku membaca koran suara merdeka hari minggu tanggal 3 Februari 2008. Seperti biasa, tak pernah aku lewatkan satu cerpen-pun dalam koran minggu itu, termasuk satu dongeng karangan Anggrahini KD yang berjudul Kodi yang Tuli. walaupun itu ditunjukkan kepada anak-anak, karena dalam halaman ‘yunior’, namun aku sebagai orangtua tertegun juga. dongeng ini memiliki makna yang dalam.
Inti cerita-nya seperti ini (maaf mbak Anggrahini. semoga berkenan dongeng-nya aku ulas)
Terkisah seorang kodok yang tuli dan kerap menjadi ejekan teman-temannya. tapi dia tak pernah sedih, karena dia tak pernah mendengar ejekan teman-temannya. yang sedih justru ibu-nya yang takut anaknya tidak dapat bertahan hidup karena tuli. hebatnya, si kodi selalu berpikir positif dan justru menghibur ibu-nya kala dilihatnya orangtuang-nya itu sedih. Singkat cerita, dikisahkan ada sebuah sayembara. barang siapa mampu memanjat sebuah tugu setinggi 15 meter, akan mendapat sekantong uang emas. dan kodi ingin ikut. begitu datang ke perlombaan, semua kodok tertawa mengejek. apalagi saingannya adalah kodok bertubuh kekar, dan dia amatlah kurus. tapi kodi tak menggubris, karena dia tak mendengar kata-kata ejekan mereka, malah dikiranya mereka sedang menyemangati-nya.
Akhirnya perlombaan dimulai. Baru beberapa meter menanjak, seekor kodok menggelepar. Kodok yang ain memandangi kodok yang jatuh ke tanah dengan pandangan ngeri. mereka baru sadar, ternyata tugu-nya tinggi sekali. satu persatu kodok mulai berjatuhkan, mereka berpikir dari pada jatuh di tempat yang tinggi, lebih baik jatuh di tempat yang tidak terlalu tinggi, agar tidak sakit. hingga akhirnya tinggal 3 kodok yang tersisa. saat itu penonton berteriak-teriak, “Puncak tuga itu sangat tinggi. Mustahil kalian dapat mencapainya” Kodok yang telah jatuh pun ikut berteriak “Dari ketinggian tiga meter saja badanku sudah sakit semua, apalagi jika jatuh dari ketinggian 15 meter. Pasti mengerikan! Tulang-tulangmu bisa remuk!” Kodok yang masih memanjat mulai khawatir. ketika melonggok ke bawah, mereka sadar ternyata memang tugu itu tinggi sekali. akhirnya ia pun menjatuhkan diri. tinggal 2 kodok lagi termasuk kodi. “hati-hati, di atas sana licin, kamu bisa terpeleset”. lagi-agi teriakan dari bawah. teriakan tersebut membuat saingan kodi berpikir “licin? aduh bagaimana kalau nanti aku jatuh?” akhirnya saingan kodi menjatuhkan diri juga, karena khawatir terpeleset. Tinggal kodi seorang diri.
“Kodi diatas licin, kamu bisa jatuh” suara lain menimpali “Iya, menyerah saja. Angin diatas berhembus sangat kencang, kamu bisa terbang terbawa angin” Kodi tak peduli dan terus memanjat. akhirnya, Hap, Kodi sampai di puncak. Penonton menyorakinya, “Ya, Tuhan…ia berhasil!” Saat kodi turun penonton mengerubutinya. dan bertanya-tanya, bagaimana bisa kodi berhasil. baru mereka sadar kodi tuli, sehingga tidak bisa mendengar peringatan mereka. ibu kodi akhirnya menimpali “Kodi dapat sampai di puncak karena ia tidak dapat mendengar ucapan-ucapan kalian yang melemahkan semangat”
Dan akhirnya, cerita ini ditutup dengan kata-kata kodi saat memberikan hadiah sekantong emas untuk ibu-nya. “Ini untukmu Ibu, Atas cinta kasih dan kesabaranmu”
————————————
simple, sederhana, mengena. yup, kisah kodi bisa diambil pelajaran. pertama, terkadang untuk sukses kita harus menuli-kan diri. banyak karya hebat, yang diawali dengan cemoohan atau tertawa-an orang ketika ide itu dilontarkan. namun ketika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, menjadi karya yang hebat. kedua, selain menuli-kan diri, tentu kemauan keras dan pantang menyerah menjadi kunci penting. hal ini bisa didapat apabila memiliki motivasi kuat. termasuk motivasi memberikan yang terbaik pada yang kita cintai. ketiga, memiliki pikiran positif, atas apa yang terjadi pada kita. mungkin kalau kodi berpikir negatif, melihat orang ngobrol saja, dikira meledek. tapi dengan pikiran positif, orang mengejek justru dikira memberi semangat. hal yang sangat menguntungkan, bukan. darimana pikiran positif lahir? tentu dari hikmah keempat, yaitu orang tua yang selalu mencintai dan sabar atas kekurangan anaknya. siapa lagi yang bisa menjadi motivator dan penyemangat utama, selain orangtua. dan keempat faktor diatas, benar-benar bisa terapkan untuk membentuk anak yang sukses, terutama di era generasi platinum saat ini.










Yup, thx 4 apresiasinya. Saya Anggrahini KD. Selamat untuk kehamilannya.
Oleh: Anggrahini KD on Februari 12, 2008
at 2:35 am
mama……Papa kagum mama, ilove u mama
Oleh: papa on Maret 13, 2008
at 8:07 am