Maraknya akibat budaya kekerasan yang diberitakan beberapa media, merupakan suatu hal yang cukup memprihatinkan. Dimulai dari tindakan anarkis yang tidak bertanggungjawab, munculnya geng motor, geng sekolah dan lain sebagainya. Namun masyarakat tidak sadar, bahwa munculnya tindakan kekerasan tidak hanya menimbulkan korban luka-luka atau meninggal, tapi juga merupakan jejak terjadinya degenerasi moral, terutama, dominannya sifat seorang pengecut, tidak peka terhadap orang lain dan tidak mampu terharu.
Seorang mantan guru besar psikologi di West Point, akademi militer AS, Letnan Kolonel David Grossman, mencetuskan penyakit baru yaitu AVID (Acquired Violence Immune Deficiency/Penurunan Kekebalan Terhadap Kekerasan). Grossman adalah pensiunan tentara pakar desentisisasi (hilangnya kepekaan perasaan) yang melatih prajurit agar mereka lebih efisien dalam membunuh. Pendapat Grossman juga patut dicermati karena ia juga penulis buku On Killing: The Psychological Cost of Learning to Kill in War and Society. Penyakit AVID tidak hanya menyerang orang dewasa, namun fakta menyebutkan anak-anak lebih rentan terhadap penyakit ini. Penyebab penyakit AVID, sebagaimana terjadi di AS adalah pembiasaan terhadap kekerasan. Pembiasaan ini terutama dilakukan oleh media. Masyarakat, terutama anak-anak mulai terbiasa melihat kekerasan yang kerap dilihat dalam film, sinetron, bahkan juga berita. Bahkan permainan video game yang paling baru lebih banyak didominasi oleh video game kekerasan atau (violent video game). Dalam industri media, tentu saja kata “kekerasan” tidak akan kita jumpai dengan mudah. Industri lebih suka menyebutkan dengan “action” atau “laga”. Eufimisme semacam ini, menyebabkan masyarakat dengan ramah menerima semua produk industri begitu saja. Padahal kekerasan dalam film, sinetron bahkan video game, bukan saja kekerasan dalam bentuk visual, tetapi juga verbal atau bahasa. Maraknya kebencian yang mendalam seorang tokoh pada tokoh lain, dan caci maki kebencian yang begitu mudah keluar dari seorang tokoh, merupakan salah satu kekerasan yang diperhalus sedemikian rupa. Seorang produser tv di tabloid infontaiment berkata, bahwa menghilangkan aksi action atau laga, merupakan hal yang mustahil. Dia berkata, bahwa film kartun Tom and Jerry saja mengandung aksi kekerasan. Tentu saja produser itu benar. Tetapi apabila hal tersebut dijadikan alasan untuk menanyangkan film action begitu saja, maka alasan tersebut sangatlah bodoh.Banyaknya media berisi kekerasan yang mengepung anak-anak kita, menyebabkan terbiasanya anak-anak pada adegan kekerasan, darah yang mengucur dimana-mana, dendam kesumat dan juga caci-maki. Sedangkan orangtua akan sedikit lengah mengawasi anak-anak dari pembiasan kekerasan karena telah terjadi penghalusan kata “kekerasan” yang tampak negatif menjadi “action atau laga” yang tampak lebih positif. Pun dominannnya video game yang mengumpulkan point dari banyaknya memukul, atau dengan kata lain, yang paling kejam yang menang, menyebabkan hal tersebu tampak biasa. Padahal dalam video game, anak tidak pernah dijelaskan apa alasan memukul lawan main. Yang mereka tahu, bahwa pelaku adalah jagoan yang benar, dan orang lain salah.Akibatnya, anak akan kehilangan rasa sensitif terhadap kekerasan. Efek desentialisasi akan nampak dari anak yang melihat tayangan yang kurang menampilkan kekerasan, akan menggangap tayangan tersebut kurang seru. Semakin sering mereka menonton tayangan kekerasan, termasuk dalam sinetron, semakin mereka terbiasa dengan hal-hal tersebut. Ingin bukti lebih ilmiah? Anda boleh buktikan sendiri. Menurut penelitian, hanya butuh waktu 10 menit bagi anak untuk bisa mengikuti kekerasan baik secara verbal maupun tindakan, atau bahkan keduanya. Parahnya, banyak orangtua yang melimpahkan semua tanggungjawab pada anak. Seperti yang terjadi pada sepupu saya. Ketika seorang adik sepupu saya berusia 3 tahun, orangtua-nya sibuk bekerja. Sehingga adik saya, atau sebut saja syarif, dititipkan pada nenek-nya. Oleh sang nenek, karena sang nenek sudah tua (ya iyalah, namanya nenek pasti tua), maksud saya tidak mau repot, syarif disetelkan film kartun Tom and Jerry. Dan saat nonton dia serius sekali. Dengan dalih, itu adalah kesukaan anak,akhirnya syarif sering sekali disetelkan kartun dalam VCD bajakan tersebut. Padahal kalau lebih jujur, Syarif disetelkan tontonan tersebut saat dia rewel, alias untuk mendiamkan adik sepupu saya. Ditambah pengasuh si syarif juga orang yang galak, dan sering sekali teriak-teriak padanya. Sekarang syarif berusia 4 tahun. Dan dalam usia tersebut, saat dia memiliki adik baru, dia pernah berkata,”bapak pulang gendong dede, ibu pulang juga gendong dede. Nanti dede aku hancurin lho”. Dan itu bukan sekedar kata-kata, karena ketika ibu-nya lengah, Syarif tidak segan-segan menggendong adiknya, yang berusia 3 bulan, dari kamar ke ruang tamu seperti seekor kucing menggendong anaknya. Dan si syarif selalu berkata, “aku tikus, dan yang lain kucing”. Akhirnya di usia 4 tahun, kami mengajak Syarif ke psikiater. Dan oleh sang psikiater Syarif diberi terapi untuk mengurangi kesenangannya melihat orang lain menderita, seperti si Jerry terhadap Tom, dalam kartun Tom and Jerry.Jadi jangan salahkan apabila anggota keluarga kita menjadi tidak peka dan tidak memiliki rasa empati terhadap sekitar. Karena, bukan semata-mata karakter dari mereka saja, tetapi mungkin, andil dari kita, karena kita tidak memfilter apa yang kita tonton.
Ibu, sampai kapan kita menonton sembarang sinetron? Apakah menunggu anak kita terserang AVID ? Tapi yang pasti, jangan sampai kita sadar, ketika anggota keluarga kita menjadi korban para penderita AVID.
Sumber: Majalah Ummi edisi 2006









