Kecerdasan intelektual tanpa iringan kecerdasan emosional membuat anak rentan menghadapi hidup dan kariernya kelak. Lintang, bukan nama sebenarnya, jadi malu sendiri gara-gara ulah anaknya. ”Ma, ada orang tua,” teriak Nuri, anak tunggalnya yang menginjak remaja, dari teras. Saat itu, tamu yang datang adalah tetangga orang tua Lintang di kampung. Yang dilakukan Nuri bukannya menerima tamu, tetapi hanya berteriak memanggil ibunya.Asal tahu saja, Nuri sedang belajar. Dan, kerja si langganan juara kelas ini memang cuma belajar dan belajar. Nuri memang anak membanggakan. Tapi pengalaman dengan tamu itu, tiba-tiba membuat Lintang tersentak, ada yang kurang pada anaknya. Biasanya orang tua memang sangat bangga apabila melihat anaknya cerdas dalam logika. Dapat menghitung dengan cepat, kemampuan menghafal, melakukan analisis-analisis ilmu pasti, jadi juara kelas. Di tingkat SMA, anak mendapatkan penjurusan di ilmu pasti. Padahal kecerdasan intelegensi tidaklah cukup bisa menjamin karier masa depan anak jika tak diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritual.
Anak selain tidak bisa bersosialisasi juga kurang bisa mengendalikan emosinya bila menghadapi masalah. ”Biasanya malah orang tua melarang anaknya bergaul dan menyuruhnya belajar terus di rumah. Tindakan ini malah salah. Anak bisa menjadi tertekan,” ujar psikolog Tika Bisono dalam seminar plus Jurus Jitu Mengembangkan Potensi Anak yang diselenggarakan Penerbit Erlangga di News Cafe’- Kemang, Jakarta Selatan, awal bulan ini. Hadir pula sebagai pembicara pakar anak Dr Seto Mulyadi.
Kemampuan pahami perasaan
Kepada peserta seminar, Tika Bisono menyinggung tentang tujuh kecerdasan versi Prof Howard Gardner dari Harvard University. Yakni, logika matematika, visual spasial, linguistik, sosial atau interpersonal, intrapersonal atau introspeksi, musik dan fisik - kinetik. Walaupun setiap anak tidak bisa mempunyai semua aspek kecerdasan di atas, menurut Tika, paling tidak anak tersebut mempunyai kemampuan agak merata. Sehingga dalam setiap permasalahan, anak bisa mengatasi masalahnya secara mandiri. Di samping satu kemampuan yang menonjol.
Tapi, yang amat andilnya dalam keberhasilan seseorang ternyata tidak terletak pada kecerdasan intelektual belaka. Psikolog tamatan Universitas Indonesia ini menekankan pentingnya kecerdasan emosional dan spiritual. Ini adalah kemampuan anak memahami perasaan dan kesanggupannya mengelola perasaan. Di dalamnya termasuk kemampuan mengambil keputusan, penengah konflik, mengatasi tekanan, berlaku empati, berkomunikasi dan kemampuan membuka diri. Kemudian si anak mempunyai pengertian/berwawasan, penerimaan diri, kesadaran akan diri, tanggung jawab pribadi, keasertifan, kepribadian yang dinamis. ”Kecerdasan ini dipercaya bisa menunjang karier seseorang dalam bidang apa pun,” ujarnya.
Di samping itu, ada lagi kemampuan memiliki karakter, antara lain perhatian akan sesama, kebijaksanaan, kharisma, pengertian dalam hal bersifat supernatural dan spiritual, kemampuan mendengar, pandangan luas, kesadaran, komitmen, dedikasi, keyakinan yang kuat atau meringankan beban. Untuk bisa menciptakan anak berkemampuan tersebut tidaklah semudah membalikkan tangan. Tapi tidaklah sesulit menegakkan benang basah. Apabila orang tua mempunyai perhatian penuh pada sang anak dan mendidik secara benar, tidak ada alasan akan tidak berhasil.
Sejak dalam kandungan
Dr Seto Mulyadi yang juga menjadi pembicara dalam acara yang sama menambahkan, untuk menjadikan anak cerdas dalam emosi dan spiritual dimulai sejak anak dalam kandungan. Ketika masih dalam usia embrio, sang anak harus sering-sering dipeluk, dicium, belaian, senandung rindu, lewat perut sang ibu.
”Yang jelas kuncinya adalah rasa perhatian terhadap bayi yang ada dalam kandungan. Kalau perlu diajak berbicara atau bercerita pun tidak ada masalah,” ujarnya. Mungkin kedengarannya sangat lucu atau terkadang dianggap gila dengan mengajak bicara bayi dalam kandungan. Tapi, kata Seto, sebenarnya cara ini sangat efektif dalam melatih rangsangan mental dalam membentuk pengalaman yang kaya. Bahkan berdasarkan penelitian para ahli, pertumbuhan fisik bayi dalam kandungan tak hanya membutuhkan makanan yang bergizi. Ia juga membutuhkan gizi mental yang tinggi bagi perkembangan kejiwaan. Terlebih lagi pada bayi yang baru dilahirkan.
Pengalaman berupa sentuhan yang hangat, dekapan, belaian, senandung lagu-lagu yang merdu atau aneka warna benda-benda yang bisa dilihat di sekelilingnya sangat bermakna bagi perkembangan jiwanya. Eric Erikson dalam terori psiko-sosialnya mengatakan, kelahiran bagi seorang bayi merupakan pengalaman traumatik yang pertama. Apabila bayi memperoleh sentuhan cinta yang hangat dalam awal tahun kehidupan, ia akan merasa bahwa dunia yang barunya aman. Begitu aman, lanjut Seto Mulyadi, sang bayi dengan penuh percaya diri akan dapat mengembangkan potensinya secara optimal. ”Dan dalam hal ini ibu memang mempunyai peranan penting. Terutama dalam pengembangan rasa percaya diri tingkat dasar,” ujarnya.
Sentuhan cinta, jelas Seto, terkait dengan sentuhan fisik yang dilakukan ibu terhadap bayinya. Bahkan saat pertama ketika bayi lahir, penelitian menunjukkan, masa ini sangat peka bagi pembentukan ikatan antara ibu dan anak. Salah satu bukti dalam penelitian, bayi yang dipisah ibu pada jam-jam pertama setelah kelahiran cenderung akan mengembangkan pola ikatan ibu-anak yang berkurang. Sementara pada ibu dan bayi yang memperoleh kesempatan saling bersentuhan akan erat ikatannya. ”Sentuhan fisik inilah kata kuncinya,” kata Seto. Karena selain dapat membuat rasa aman bayi, sentuhan seperti itu juga berfungsi mengembangkan komunikasi yang akrab antara ibu dan bayi sekaligus merangsang perkembangan emosi optimal.
Di mana letak peran ayah? Ayah tetap bisa memberikan peran lewat pelukan, dekapan, belaian, elusan lembut pada kepala bayi atau pijatan. Perlindungan dari ayah ini bisa dirasakan oleh si anak. ”Bila perlu ayah harus bisa memandikan bayi, mengganti popok, menyenandung lagu lembut atau menidurkan. Ini akan semakin melengkapi rangsangan mentalnya,” tambah Seto. Peran orang tua dalam upaya mencerdaskan anak di rumah sangat penting. Karena itu, Seto menganjurkan setiap orang tua meluangkan waktu secara teratur bagi putra-putri balitanya di rumah.
sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=160366&kat_id=215&kat_id1=&kat_id2=
Ditulis dalam Latar Belakang Pustaka


