Senin, 18 Februari 2008, dalam suara merdeka rubrik wacana, bapak Najanuddin Muhammad, (nyuwun sewu pak, saya ikut berkomentar), peneliti pada CSRC Yogyakarta, menulis tentang Kritik Pendidikan Yang Salah Alamat. Pak Najamuddin menulis, bahwa kritik terhadap sistem pendidikan nasional hanya dititik beratkan pada minimnya anggaran pendidikan dari pemerintah. Hal ini disebabkan pemahaman “runtuhnya pendidikan” hanya terletak pada menterengnya gedung dan kelengkapan fasilitas sekolah, bukan pada perilaku dan sikap siswa-nya sudah melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan. Beliau juga berpendapat, bahwa upaya memperbaiki kualitas pendidikan nasional paling vital bukan terletak pada sarana dan fasilitas, melainkan perbaikan internal sekolah. Proses pembelajaran menjadi poin utama untuk menghasilkan siswa yang berkualitas dan bermanfaat bagi perkembangan bangsa.
Kira-kira begitu, yang saya pahami dari tulisan bapak Najamuddin. semoga saya tidak salah mengerti. Membaca artikel tersebut, cukup membuat saya berpikir. Ternyata alangkah berat tugas seorang guru. Memang, anggaran pendidikan yang tinggi, berimbas pada gaji guru yang tinggi. Namun betulkah itu masalah utama? Dalam dataran pemerintah, ya. tapi dalam dataran praktisi pendidikan, tidak.
Menurut survey pemerintah, 60 % guru di Indonesia tidak layak mengajar. Lalu, kita juga sering mendengar ada guru yang memukul, menghina bahkan membunuh siswa-nya. Pada saat itu, kritik dan komentar pedas mengalir deras. seolah-olah seluruh guru melakukan hal yang sama. Masyarakat pun men-cap bahwa guru tidak profesional. Namun ketika, sang guru (dari 40% itu) menunjukkan prestasi, masyarakat mencibir, dan berkata, bahwa menjadi juara olimpiade atau karya ilmiah tidak mewakili pendidikan Indonesia yang begitu rendah. Lalu, apa sebenarnya indikator mutu pendidikan itu?
Saya setuju bahwa data 60 % guru tidak layak mengajar, cukup memprihatinkan. Tetapi, apabila hal tersebut dijadikan alasan bobroknya pendidikan, maka itupun -meminjam istilah pak Najamudin- salah alamat. Guru, begitu juga pemerintah, adalah cerminan masyarakat. Mereka adalah bagian kecil dari masyarakat. Sehingga, ketika ada yang berteriak pemerintah korup, maka sebenarnya, sama saja berteriak masyarakat korup. ketika mereka mengatakan guru tidak profesional, maka sebenarnya, masyarakat itu sendiri yang tidak profesional.
Sepertinya banyak orang lupa, atau mungkin tidak tahu, bahwa pendidikan, mencakup, pendidik-sarana prasarana-perangkat pendidikan (kurikulum)-peserta didik-lingkungan. semuanya tergantung satu sama lain. peran pendidik jelas, sarana prasarana-pun lebih baik ada, walaupun bukan keharusan, kurikulum, toh, cuma ganti orientasi saja. lalu, bagaimana peran peserta didik dan lingkungan sekarang? adakah yang bisa menjabarkan, sejauh mana peserta didik dan lingkungan, dalam hal ini masyarakat dan orangtua, berperan jauh dalam pendidikan?
Saya ingat pada cerita Thomas Alva Edison. ketika kecil, sang ibu datang sambil menangis dan langsung memeluknya. sang ibu berkata, ’anakku, saat ini kau akan belajar bersamaku dirumah, karena para guru tidak mampu mengajarimu lagi’ saat itu, Edison dikeluarkan dari sekolah karena dianggap sangat bodoh. tapi sang ibu tidak menyerah, apalagi menyogok sekolah untuk tetap menerima anaknya. tetapi dengan tangannya sendiri dia mendidik sang anak, hingga Edison mampu kuliah dan menjadi penemu ternama.
Andaikan Edison di Indonesia, mungkin lain cerita-nya. bisa jadi sang ibu menyogok sekolah, karena malu anaknya tidak sekolah, atau sang ibu memaki-maki sekolah, karena tidak bisa mendidik anaknya. akibatnya, sang anak bisa jadi tertekan karena rasa malu sang ibu, atau terdidik senang menyalahkan orang lain hingga dewasa.
Direktur YPPA Raihan, berkata, bahwa Indonesia memiliki kesadaran pendidikan anak dini yang rendah. pendidikan seharusnya dimulai dari prenatal. bahkan menurut Islam sejak memilih pasangan. tetapi orang tua Indonesia cenderung mendidik berdasar naluri, kemudian, diserahkan ke guru-nya. pemilihan sekolah juga berdasar kemampuan finansial, bukan berdasarkan kualitas sang guru.Padahal guru berkualitas,tidak selalu guru yang berada di sekolah yang mahal. banyak guru yang berdedikasi dan memiliki idealisme tinggi, justru memilih mengajar di sekolah biasa. karena bagi mereka dedikasi lebih utama daripada uang. apakah masih ada guru seperti itu?tentu. Ingat 40% guru di Indonesia, berkualitas. dan tidak mungkin, akan terus bertambah setiap waktu. Tinggal bagaimana orangtua pandai mencari satu di antara 40 % guru tersebut. Guru pun bisa lebih luas makna-nya. Karena pada hakikatnya siapapun yang memiliki pengalaman dan pengetahuan adalah guru.
Rasulullah mengajarkan, bahwa orangtua wajib memilihkan guru yang baik untuk anaknya, dan mendorong anak untuk memilih figur idola yang baik. mungkin hal itu terlewatkan oleh orangtua Indonesia, yang lebih cenderung mengikuti arus. menyekolahkan dan pasrah bongkokan pada sang guru dan sekolah. tidak ada kritisisasi pada pihak sekolah akibat pendidikan pada anaknya. sekolah pun melibatkan orang tua hanya untuk iuran saja. tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat. banyak orangtua protes mengenai biaya sekolah, namun jarang orangtua yang mengeluh mengenai kualitas gurunya. jarang orangtua mengeluh kenapa prestasi anaknya stagnan. atau mungkin, jarang ada orangtua yang memantau prestasi anaknya, kecuali di akhir semester dan uan.
Khadijah Aziizah menulis Keberhasilan pendidikan anak sampai masa awal kanak-kanak (balita) terutama ditentukan oleh pihak keluarga, karena banyak dilakukan oleh keluarga dan dalam lingkungan keluarga. Sedangkan mulai pada masa pertengahan kanak-kanak, anak mendapatkan pendidikan di sekolah maka strategi pendidikan yang diterapkan negaralah terutama menentukan pencapaian tujuan pendidikan anak sesuai yang digariskan Islam. Selain keluarga dan negara, pihak lain yang berperan dalam pendidikan anak adalah masyarakat.Guru hanya berperan banyak pada pendidikan formal. sedangkan pendidikan keseluruhan berperan pada orangtua. sehingga peran orangtua jelas harus lebih dominan daripada sang guru itu sendiri. guru hanya sebagai pelengkap, apa yang orangtua tidak ketahui, bukan mengambil alih peran orangtua.
Jadi, menurut saya, menaikkan bobroknya pendidikan, baiknya diawali dari kesadaran pentingnya pendidikan oleh orang tua. karena orangtua mendidik anak selama lebih dari 12 jam. sedangkan guru rata-rata hanya 2 x 40 menit. apabila kesadaran orangtua meningkat, maka kesadaran masyarakat akan meningkat pula. apabila kesadaran masyarakat meningkat, maka otomatis kualitas guru dan pemerintah pasti akan membaik.