Posted by: bhadra31 | Februari 27, 2008

Stereotip Negatif, Sebagai Kanker Dunia Pendidikan

Adalah suatu hal yang membanggakan sekaligus menyedihkan, ketika melihat bahwa penyelenggaraan seminar pendidikan saat ini memiliki peminat yang banyak, terutama bapak/ibu guru yang sedang/akan menjalani sertifikasi. Seperti baru-baru ini, di kota saya, sebuah lembaga pendidikan swasta menyelenggarakan seminar pendidikan mengenai jardiknas, dan diikuti oleh bapak/ibu guru. Namun, alangkah sayangnya, ketika di dalam ruangan yang over loaded itu, banyak bapak/ibu guru yang tidak berpartisipasi aktif, justru sibuk berbincang dengan rekannya sendiri. Ketika ditegur, dengan ringan bapak/ibu guru tersebut menjawab, buat apa terlalu serius, toh, disekolah tidak ada fasilitas komputer, lagipula kehadirannya hanya sekedar menjalankan tugas dan mendapatkan sertfikat. Secara iseng, saya menanyakan kepada 20 peserta yang lain dan 17 orang diantaranya memiliki pendapat yang sama. Stereotip negative, memang kerap muncul dalam dunia pendidikan. Antara lain di sela-sela waktu istirahat di ruang guru. Sebagai contoh, suatu saat bapak/ibu guru diajak untuk membuat media pembelajaran sendiri, muncul alasan, tidak ada fasilitas disekolah. Namun,ketika suatu saat fasilitas di sekolah dilengkapi, apakah kemudian bapak/ibu guru tersebut akan mau mulai membuat media pembelajaran sendiri? Tidak hanya mengenai teknologi, para siswa pun tumbuh dalam stereotip negatif guru dan orang tua yang mendidiknya. Apabila ada siswa membolos, maka siswa tersebut akan dicap nakal. Tanpa diselidiki kenapa dia  melakukan hal tersebut. Juga siswa yang tidak paham di kelas, dicap bodoh, walaupun mungkin ada faktor lain yang tidak diketahui guru. Parahnya stereotip negatif juga merupakan penyakit menular. Apabila stereotip negatif terus berkembang, maka jadilah kanker di dunia pendidikan. Karena pandangan negatif akan melahirkan sikap pesimis kepada dunia pendidikan. Sikap pesimis tersebut, akan menjadi  pemberat maju-nya dunia pendidikan dan mematikan motivasi bagi mereka para guru yang berkeinginan untuk maju. Tidaklah salah berpikir kritis, dan mengevaluasi segala tindakan/kebijakan, namun, menvonis sesuatu hal tanpa data yang akurat dan pemikiran yang dalam, justru akan menghadirkan opini kosong yang mematikan dunia pendidikan itu sendiri. Saatnya para guru untuk berpikir optimis dan mulai membenahi diri apapun keadaanya. Setiap bertambah satu guru yang berdedikasi dan memajukan diri, maka bertambah dekat pula kita pada pendidikan yang berkualitas.

Posted by: bhadra31 | Februari 18, 2008

Bobroknya Pendidikan, Salah Guru kah?

Senin, 18 Februari 2008, dalam suara merdeka rubrik wacana, bapak Najanuddin Muhammad, (nyuwun sewu pak, saya ikut berkomentar), peneliti pada CSRC Yogyakarta, menulis tentang Kritik Pendidikan Yang Salah Alamat. Pak Najamuddin menulis, bahwa kritik terhadap sistem pendidikan nasional hanya dititik beratkan pada minimnya anggaran pendidikan dari pemerintah. Hal ini disebabkan pemahaman “runtuhnya pendidikan”  hanya terletak pada menterengnya gedung dan kelengkapan fasilitas sekolah, bukan pada perilaku dan sikap siswa-nya sudah melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan.  Beliau juga berpendapat, bahwa upaya memperbaiki kualitas pendidikan nasional paling vital bukan terletak pada sarana dan fasilitas, melainkan perbaikan internal sekolah. Proses pembelajaran menjadi poin utama untuk menghasilkan siswa yang berkualitas dan bermanfaat bagi perkembangan bangsa.

Kira-kira begitu, yang saya pahami dari tulisan bapak Najamuddin. semoga saya tidak salah mengerti. Membaca artikel tersebut, cukup membuat saya berpikir. Ternyata alangkah berat tugas seorang guru. Memang, anggaran pendidikan yang tinggi, berimbas pada gaji guru yang tinggi. Namun betulkah itu masalah utama? Dalam dataran pemerintah, ya. tapi dalam dataran praktisi pendidikan, tidak.

Menurut survey pemerintah, 60 % guru di Indonesia tidak layak mengajar. Lalu, kita juga sering mendengar ada guru yang memukul, menghina bahkan membunuh siswa-nya. Pada saat itu, kritik dan komentar pedas mengalir deras. seolah-olah seluruh guru melakukan hal yang sama. Masyarakat pun men-cap bahwa guru tidak profesional. Namun ketika, sang guru (dari 40% itu) menunjukkan prestasi, masyarakat mencibir, dan berkata, bahwa menjadi juara olimpiade atau karya ilmiah tidak mewakili pendidikan Indonesia yang begitu rendah. Lalu, apa sebenarnya indikator mutu pendidikan itu?

 Saya setuju bahwa data 60 % guru tidak layak mengajar, cukup memprihatinkan. Tetapi, apabila hal tersebut dijadikan alasan bobroknya pendidikan, maka itupun -meminjam istilah pak Najamudin- salah alamat. Guru, begitu juga pemerintah, adalah cerminan masyarakat. Mereka adalah bagian kecil dari masyarakat. Sehingga, ketika ada yang berteriak pemerintah korup, maka sebenarnya, sama saja berteriak masyarakat korup. ketika mereka mengatakan guru tidak profesional, maka sebenarnya, masyarakat itu sendiri yang tidak profesional.

Sepertinya banyak orang lupa, atau mungkin tidak tahu, bahwa pendidikan, mencakup, pendidik-sarana prasarana-perangkat pendidikan (kurikulum)-peserta didik-lingkungan. semuanya tergantung satu sama lain. peran pendidik jelas, sarana prasarana-pun lebih baik ada, walaupun bukan keharusan, kurikulum, toh, cuma ganti orientasi saja. lalu, bagaimana peran peserta didik dan lingkungan sekarang? adakah yang bisa menjabarkan, sejauh mana peserta didik dan lingkungan, dalam hal ini masyarakat dan orangtua, berperan jauh dalam pendidikan?

Saya ingat pada cerita Thomas Alva Edison. ketika kecil, sang ibu datang sambil menangis dan langsung memeluknya. sang ibu berkata, ’anakku, saat ini kau akan belajar bersamaku dirumah, karena para guru tidak mampu mengajarimu lagi’ saat itu, Edison dikeluarkan dari sekolah karena dianggap sangat bodoh. tapi sang ibu tidak menyerah, apalagi menyogok sekolah untuk tetap menerima anaknya. tetapi dengan tangannya sendiri dia mendidik sang anak, hingga Edison mampu kuliah dan menjadi penemu ternama.

Andaikan Edison di Indonesia, mungkin lain cerita-nya. bisa jadi sang ibu menyogok sekolah, karena malu anaknya tidak sekolah, atau sang ibu memaki-maki sekolah, karena tidak bisa mendidik anaknya.  akibatnya, sang anak bisa jadi tertekan karena rasa malu sang ibu, atau terdidik senang menyalahkan orang lain hingga dewasa.

Direktur YPPA Raihan, berkata, bahwa Indonesia memiliki kesadaran pendidikan anak dini yang rendah. pendidikan seharusnya dimulai dari prenatal. bahkan menurut Islam sejak memilih pasangan. tetapi orang tua Indonesia cenderung mendidik berdasar naluri, kemudian, diserahkan ke guru-nya. pemilihan sekolah juga berdasar kemampuan finansial, bukan berdasarkan kualitas sang guru.Padahal guru berkualitas,tidak selalu guru yang berada di sekolah yang mahal. banyak guru yang berdedikasi dan memiliki idealisme tinggi, justru memilih mengajar di sekolah biasa. karena bagi mereka dedikasi lebih utama daripada uang. apakah masih ada guru seperti itu?tentu. Ingat 40% guru di Indonesia, berkualitas. dan tidak mungkin, akan terus bertambah setiap waktu. Tinggal bagaimana orangtua pandai mencari satu di antara 40 % guru tersebut. Guru pun bisa lebih luas makna-nya. Karena pada hakikatnya siapapun yang memiliki pengalaman dan pengetahuan adalah guru.

Rasulullah mengajarkan, bahwa orangtua wajib memilihkan guru yang baik untuk anaknya, dan mendorong anak untuk memilih figur idola yang baik. mungkin hal itu terlewatkan oleh orangtua Indonesia, yang lebih cenderung mengikuti arus. menyekolahkan dan pasrah bongkokan pada sang guru dan sekolah. tidak ada kritisisasi pada pihak sekolah akibat pendidikan pada anaknya. sekolah pun melibatkan orang tua hanya untuk iuran saja. tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat. banyak orangtua protes mengenai biaya sekolah, namun jarang orangtua yang mengeluh mengenai kualitas gurunya. jarang orangtua mengeluh kenapa prestasi anaknya stagnan. atau mungkin, jarang ada orangtua yang memantau prestasi anaknya, kecuali di akhir semester dan uan.

Khadijah Aziizah menulis Keberhasilan pendidikan anak sampai masa awal kanak-kanak (balita) terutama ditentukan oleh pihak keluarga, karena banyak dilakukan oleh keluarga dan dalam lingkungan keluarga. Sedangkan mulai pada masa pertengahan kanak-kanak, anak mendapatkan pendidikan di sekolah maka strategi pendidikan yang diterapkan negaralah terutama menentukan pencapaian tujuan pendidikan anak sesuai yang digariskan Islam. Selain keluarga dan negara, pihak lain yang berperan dalam pendidikan anak adalah masyarakat.Guru hanya berperan banyak pada pendidikan formal. sedangkan pendidikan keseluruhan berperan pada orangtua. sehingga peran orangtua jelas harus lebih dominan daripada sang guru itu sendiri. guru hanya sebagai pelengkap, apa yang orangtua tidak ketahui, bukan mengambil alih peran orangtua.

Jadi, menurut saya, menaikkan bobroknya pendidikan, baiknya diawali dari kesadaran pentingnya pendidikan oleh orang tua. karena orangtua mendidik anak selama lebih dari 12 jam. sedangkan guru rata-rata hanya 2 x 40 menit. apabila kesadaran orangtua meningkat, maka kesadaran masyarakat akan meningkat pula. apabila kesadaran masyarakat meningkat, maka otomatis kualitas guru dan pemerintah pasti akan membaik.

Posted by: bhadra31 | Februari 5, 2008

Kisah Katak Yang Tuli

Kemarin aku membaca koran suara merdeka hari minggu tanggal 3 Februari 2008. Seperti biasa, tak pernah aku lewatkan satu cerpen-pun dalam koran minggu itu, termasuk satu dongeng karangan Anggrahini KD yang berjudul Kodi yang Tuli. walaupun itu ditunjukkan kepada anak-anak, karena dalam halaman ‘yunior’, namun aku sebagai orangtua tertegun juga. dongeng ini memiliki makna yang dalam.

Inti cerita-nya seperti ini (maaf mbak Anggrahini. semoga berkenan dongeng-nya aku ulas)

————————–

Terkisah seorang kodok yang tuli dan kerap menjadi ejekan teman-temannya. tapi dia tak pernah sedih, karena dia tak pernah mendengar ejekan teman-temannya. yang sedih justru ibu-nya yang takut anaknya tidak dapat bertahan hidup karena tuli. hebatnya, si kodi selalu berpikir positif dan justru menghibur ibu-nya kala dilihatnya orangtuang-nya itu sedih. Singkat cerita, dikisahkan ada sebuah sayembara. barang siapa mampu memanjat sebuah tugu setinggi 15 meter, akan mendapat sekantong uang emas. dan kodi ingin ikut. begitu datang ke perlombaan, semua kodok tertawa mengejek. apalagi saingannya adalah kodok bertubuh kekar, dan dia amatlah kurus. tapi kodi tak menggubris, karena dia tak mendengar kata-kata ejekan mereka, malah dikiranya mereka sedang menyemangati-nya.

Akhirnya perlombaan dimulai. Baru beberapa meter menanjak, seekor kodok menggelepar. Kodok yang ain memandangi kodok yang jatuh ke tanah dengan pandangan ngeri. mereka baru sadar, ternyata tugu-nya tinggi sekali. satu persatu kodok mulai berjatuhkan, mereka berpikir dari pada jatuh di tempat yang tinggi, lebih baik jatuh di tempat yang tidak terlalu tinggi, agar tidak sakit. hingga akhirnya tinggal 3 kodok yang tersisa. saat itu penonton berteriak-teriak, “Puncak tuga itu sangat tinggi. Mustahil kalian dapat mencapainya” Kodok yang telah jatuh pun ikut berteriak “Dari ketinggian tiga meter saja badanku sudah sakit semua, apalagi jika jatuh dari ketinggian 15 meter. Pasti mengerikan! Tulang-tulangmu bisa remuk!” Kodok yang masih memanjat mulai khawatir. ketika melonggok ke bawah, mereka sadar ternyata memang tugu itu tinggi sekali. akhirnya ia pun menjatuhkan diri. tinggal 2 kodok lagi termasuk kodi. “hati-hati, di atas sana licin, kamu bisa terpeleset”. lagi-agi teriakan dari bawah. teriakan tersebut membuat saingan kodi berpikir “licin? aduh bagaimana kalau nanti aku jatuh?” akhirnya saingan kodi menjatuhkan diri juga, karena khawatir terpeleset. Tinggal kodi seorang diri.

“Kodi diatas licin, kamu bisa jatuh” suara lain menimpali “Iya, menyerah saja. Angin diatas berhembus sangat kencang, kamu bisa terbang terbawa angin” Kodi tak peduli dan terus memanjat. akhirnya, Hap, Kodi sampai di puncak. Penonton menyorakinya, “Ya, Tuhan…ia berhasil!” Saat kodi turun penonton mengerubutinya. dan bertanya-tanya, bagaimana bisa kodi berhasil. baru mereka sadar kodi tuli, sehingga tidak bisa mendengar peringatan mereka. ibu kodi akhirnya menimpali “Kodi dapat sampai di puncak karena ia tidak dapat mendengar ucapan-ucapan kalian yang melemahkan semangat”

Dan akhirnya, cerita ini ditutup dengan kata-kata kodi saat memberikan hadiah sekantong emas untuk ibu-nya. “Ini untukmu Ibu, Atas cinta kasih dan kesabaranmu”

———————————— 

simple, sederhana, mengena. yup, kisah kodi bisa diambil pelajaran. pertama, terkadang untuk sukses kita harus menuli-kan diri. banyak karya hebat, yang diawali dengan cemoohan atau tertawa-an orang ketika ide itu dilontarkan. namun ketika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, menjadi karya yang hebat. kedua, selain menuli-kan diri, tentu kemauan keras dan pantang menyerah menjadi kunci penting. hal ini bisa didapat apabila memiliki motivasi kuat. termasuk motivasi memberikan yang terbaik pada yang kita cintai. ketiga, memiliki pikiran positif, atas apa yang terjadi pada kita. mungkin kalau kodi berpikir negatif, melihat orang ngobrol saja, dikira meledek. tapi dengan pikiran positif, orang mengejek justru dikira memberi semangat. hal yang sangat menguntungkan, bukan. darimana pikiran positif lahir? tentu dari hikmah keempat, yaitu orang tua yang selalu mencintai dan sabar atas kekurangan anaknya. siapa lagi yang bisa menjadi motivator dan penyemangat utama, selain orangtua. dan keempat faktor diatas, benar-benar bisa terapkan untuk membentuk anak yang sukses, terutama di era generasi platinum saat ini.

Older Posts »

Kategori